Notification

×
Copyright © Best Viral Premium Blogger Templates

Iklan

Transportasi di Sulawesi Selatan Kian Aman bagi Masyarakat, Jasa Raharja Perkuat Sistem Lewat Pendekatan Penta Helix

Selasa, 14 April 2026, April 14, 2026 WIB Last Updated 2026-04-14T07:02:25Z



Jakartaexpres.com //MAKASSAR – Pendekatan keselamatan transportasi perlu bergeser dari yang semula  responsif menjadi preventif berbasis data guna menekan angka kecelakaan dan fatalitas korban. Hal tersebut disampaikan Direktur Utama Jasa Raharja, Muhammad 
Awaluddin, dalam Diskusi Keselamatan Transportasi yang mempertemukan unsur 
Penta Helix di Makassar, Senin (13/04/2026).

Diskusi yang digelar di Kantor Wilayah Jasa Raharja Sulawesi Selatan tersebut 
menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Dirlantas Polda Sulsel Kombes Pol. Dr. Pria Budi, S.I.K., M.H., serta perwakilan dari Dinas Pendidikan, Dinas Perhubungan,
Dinas Kesehatan, BPTD Kelas II Prov. Sulsel, BBPJN Sulsel, Dinas Bina Marga 
Provinsi Sulsel, DPD Organda Sulsel, PT Makassar Metro Network, RSUP Wahidin 
Sudirohusodo, RSUP Makassar, komunitas ojek online, serta akademisi dari 
Universitas Hasanuddin, Universitas Bosowa, Universitas Fajar dan Universitas 
Handayani. Forum ini menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat upaya 
pencegahan kecelakaan lalu lintas secara terpadu di wilayah Sulawesi Selatan.

Dalam paparannya, Awaluddin mengungkapkan bahwa berdasarkan data Triwulan I 
2026, nilai santunan di Sulawesi Selatan meningkat sebesar 11,14% dibandingkan 
periode yang sama tahun sebelumnya. Jumlah kejadian kecelakaan lalu lintas juga 
meningkat sekitar 8% menjadi lebih dari 2.000 kasus.
Secara nasional, data IRSMS Korlantas Polri mencatat lebih dari 151.000 kejadian 
kecelakaan dengan lebih dari 217.000 korban per tahun, dengan tren yang terus 
meningkat setiap tahunnya.

Ia menegaskan bahwa peran Jasa Raharja tidak hanya terbatas pada penyaluran 
santunan, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem pencegahan kecelakaan. Upaya 
tersebut dilakukan melalui pemetaan titik rawan kecelakaan (blackspot), edukasi 
tersegmentasi, serta peningkatan kapasitas respons pertama di lapangan.

“Kecelakaan bukan persoalan kehilangan nyawa semata. Sebagian besar yang 
mengalami kecelakaan adalah usia produktif dan kepala keluarga, sehingga ada 
perubahan tatanan sosial-ekonomi yang berdampak pada keluarga yang ditinggalkan. 
Pendekatan saat ini masih sangat dominan pada penanganan, sementara pola 
kecelakaan terus berulang. Kami ingin mendorong pergeseran dari responsif menjadi 
preventif melalui kerja sistem yang terintegrasi,” ujarnya.

Sementara itu, Dirlantas Polda Sulsel Kombes Pol. Pria Budi, menyampaikan bahwa 
meskipun jumlah kecelakaan meningkat 8%, angka fatalitas korban meninggal dunia 
justru berhasil ditekan sebesar 24%, dari 234 orang pada Triwulan I 2025 menjadi 179 
orang pada periode yang sama tahun 2026.

Dari data tersebut, sebanyak 74% kecelakaan merupakan kecelakaan tunggal, 
dengan 78% kendaraan yang terlibat adalah sepeda motor. Kecelakaan paling banyak 
terjadi pada pukul 15.00–18.00 WITA, umumnya pada kondisi cuaca cerah dan jalan 
yang baik.

Polda Sulawesi Selatan juga telah memetakan titik rawan kecelakaan di sejumlah 
wilayah, dengan konsentrasi tertinggi di Makassar, Maros, Barru, dan Pangkep. Selain 
itu, penegakan hukum didukung oleh 89 unit ETLE yang terdiri dari 14 unit statis dan 
74 unit handheld.

“Banyak nyawa yang hilang bukan karena kecelakaan itu sendiri, tetapi karena 
terlambatnya penanganan awal. Keselamatan tidak hanya berhenti pada pencegahan, 
tetapi juga pada kualitas penanganan pada saat dan sesaat setelah kecelakaan 
terjadi. Semakin cepat penanganan dalam golden period, semakin besar peluang 
korban untuk bertahan hidup,” tegasnya.

Forum tersebut juga menghasilkan sejumlah kesepakatan, antara lain penguatan 
edukasi interaktif keselamatan berkendara di titik rawan kecelakaan, perluasan 
program E-PELANTAS ke seluruh kabupaten/kota di Sulawesi Selatan, serta integrasi 
SIM-RS dengan platform JR Care untuk mempercepat penerbitan Guarantee Letter 
(GL) bagi korban kecelakaan.

Selain itu, diusulkan pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) bagi 
komunitas pengemudi sebagai first responder, guna menekan fatalitas korban pada 
masa penanganan awal.

Dari sisi infrastruktur, Dinas Bina Marga Provinsi Sulawesi Selatan merencanakan 
pemeliharaan dan peningkatan jalan sepanjang 1.000 km pada periode 2025–2027. 
Sementara Dinas Perhubungan berkomitmen menambah koridor angkutan umum dari 
dua menjadi tiga koridor.

Jasa Raharja menilai forum kolaboratif seperti ini penting untuk membangun peta jalan 
keselamatan transportasi berbasis data dan kondisi lokal. Permasalahan keselamatan 
lalu lintas dinilai tidak dapat diselesaikan secara parsial, melainkan membutuhkan 
sinergi dan komitmen bersama dari seluruh pemangku kepentingan.
Komentar

Tampilkan

  • Transportasi di Sulawesi Selatan Kian Aman bagi Masyarakat, Jasa Raharja Perkuat Sistem Lewat Pendekatan Penta Helix
  • 0

Terkini